Silsilah

Simbah KH Zaed adalah nama panggilan dari nama lengkap ... . Beliau lahir pada hari ... tanggal ... masehi, bertepatan dengan tanggal ... hijriyah. Beliau lahir dengan ...

Early Life
Lahir di daerah Kabupaten ... , tepatnya di sebuah desa kecil di ...,
Zaed muda adalah seorang santri yang hidup dengan penuh ikhtiar dan keikhlasan. Zaed muda hanya dibekali ikan asin ketika berangkat mondok. Meskipun keluarganya tergolong mampu, tapi kyai Mukhsin, ayahnya, selalu mengajarkan kesederhanaan. Uang yang dimiliki keluarga digunakan untuk membangun pesantren.

Perjuangan
Ketika terjadi peperangan di

Garis Keturunan
Ayah - Ibu

Cerita Tentang Simbah
Dari Simbah Mustainah yang diceritakan kepada Bapak Dhurorudin :
Setelah tamat ngaji pada mbah Zuhdi,  mbah Zaed sempat nyantri di beberapa pesantren.  Simbah dibekali ikan asin/teri untuk lauk keseharian. Ketika simbah makan,  seorseo santri kaya acapkali mengucap "Meong..  Meong..", Meniru suara kucing.
Maksudnya meledek simbah yg tiap hari bermenu ikan asin.

Pada suatu hari ledekan serupa kembali terjadi. Zaed muda tidak marah, tapi dg maksud menjaga  marwah  agar tak jadi  bahan ledekan, dia memamerkan kesaktian di depan si peledak tadi. Pemuda Zaed mengambil belati,  lalu dislempetkan ke paha kanannya sendiri, lalu di cabut kembali,  tanpa meninggalkan luka,  tanpa mengeluarkan darah. Si santri  peledek melongo ngeri,  dan sejak  saat itu tak berani macam2 lagi.

Bapak Dhurorudin :
Ketika simbah hidup,  seorang mantan santri menghadap simbah,  minta didoakan dan didukung menjadu kades.  Hal itu dikabulkan simbah, dan akhirnya jadilah dia.  Tapi pak Kades akhirnya jd PKI,  bahkan mengkhianati simbah.  Lapor pada tentara republik, memfitnah keluarga besar simbah Zaed sebagai pendukung DI-TII.

Rumah keluarga besar  bani Muchsin di Kacangan akhirnya dibakar tentara republik,  semua anak putu simbah kakung  "lari" ke Padangan, Cepu, Jawa Timur.  Mbah  Zaed marah  pada mantan santri, yg kades yg  jadi pki, beliau berkata "Kamu nanti akan mati di cara nista". Sabda itu akhirnya terbukti, harno  sastro  mati mengemaskan.

Kenapa beliau memilih mengungsi di Padangan, karena di sana mbah Urib binti KH Muchsin. Keluarga besar suami mbah urib -namanya mbah Maskup- cukup banyak dan berpengaruh,  sehingga relatif bisa menyembunyikan selama di pengungsian.

Karena Simbah memiliki karomah, beliau dikenal sebagai  kyai  "dukun" sehingga  banyak tamu yang datang dengan berbagai  maksud.  Ketika pamit, setiap tamu hampir pasti ninggali/nyaosi uang. Tapi anehnya uang itu tak pernah diurus apalagi dikasihkan  mbah  putri. Ada yg  ditaruh di kopyah,  di sela2 kitab,  di kantong atau dimana saja. Gak idep duwit.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Keluarga